BerberaNews.net, Jakarta – Mantan Komisaris Utama (Komut) Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok blak-blakan memberikan enam kesaksian di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Kesaksian tersebut terkait kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah yang menyebabkan kerugian negara Rp 285 triliun. Kasus ini diduga berpusat pada impor produk kilang atau bahan bakar minyak (BBM) serta penjualan solar nonsubsidi.
Dalam sidang tersebut, Ahok bersaksi untuk sembilan terdakwa. Ahok diketahui menjabat sebagai Komut Pertamina saat Presiden RI dijabat oleh Joko Widodo.
Sembilan terdakwa dalam kasus ini adalah:
- Riva Siahaan (RS) selaku eks Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga.
- Sani Dinar Saifuddin (SDS) selaku eks Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional.
- Maya Kusmaya (MK) selaku eks Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga.
- Edward Corne (EC) selaku eks VP Trading Operations PT Pertamina Patra Niaga.
- Yoki Firnandi (YF) selaku eks Direktur Utama PT Pertamina International Shipping.
- Agus Purwono (AP) selaku eks VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional.
- Muhamad Kerry Adrianto Riza (MKAR) selaku beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa sekaligus anak Riza Chalid.
- Dimas Werhaspati (DW) selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim.
- Gading Ramadhan Joedo (GRJ) selaku Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.
Dirangkum BerberaNews.net, berikut adalah sejumlah kesaksian blak-blakan Ahok di persidangan:
1. Golf Tempat Negosiasi Paling Murah
Ahok menyebut golf sebagai tempat negosiasi yang paling murah dan sehat. Ia bahkan mengaku harus belajar golf saat masuk ke Pertamina. Jaksa sempat menanyakan penilaian Ahok terkait pertemuan direksi dengan pihak lain saat bermain golf.
"Ini soal pribadi ya, saya dulu paling benci main golf, Pak. Saya melarang semua orang pemda, tidak boleh main golf karena kita kerja terlalu banyak," jawab Ahok.
Namun, Ahok menyadari semua orang di industri minyak bermain golf. "Ketika saya masuk ke Pertamina, saya baru menyadari semua orang minyak dari Amerika, Chevron, Exxon, ngajak main golf terus. Saya kan malu, Pak, nggak bisa mukul, Pak. Saya terpaksa pergi sekolah golf supaya bisa menemani mereka," ujarnya.
Menurut Ahok, negosiasi di lapangan golf jauh lebih murah dibanding ke klub malam. "Saya kira golf adalah tempat negosiasi paling sehat paling murah, jemur, jalan, murah dan bayarin anggota main itu sangat murah," katanya. Ahok juga menceritakan nasihat terdakwa Riva Siahaan saat bermain golf terkait caddy.
2. Banyak yang Bisa Ditangkap Kalau Mau
Ahok sempat membahas sistem pengadaan yang diusulkannya untuk Pertamina. Pengadaan sebelumnya, menurut Ahok, menyebabkan Indonesia tidak memiliki cadangan minyak lebih dari 30 hari. Ia mengusulkan supplier hire stock melalui e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
Ahok ingin LKPP memiliki halaman khusus untuk pengadaan di Pertamina, seperti yang ia terapkan saat menjabat Gubernur DKI Jakarta. "Jakarta menjadi provinsi pertama yang punya halaman khusus pengadaan makanya saya bisa hemat uang begitu banyak di Jakarta. Tapi apa yang terjadi ketika saya tidak jadi gubernur lagi? Semua diubah," ungkapnya.
Ahok juga menyinggung temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang hanya disebut sebagai kelebihan bayar. "Makanya saya juga bilang sama Pak Jaksa kalau mau periksa di Indonesia kasih tahu saya, saya bisa kasih tahu Pak, banyak bisa ditangkepin Pak, kalau Bapak mau Pak, itu aja Pak," tegas Ahok.
3. Ungkap Temuan Penyimpangan
Ahok mengungkap beberapa temuan penyimpangan saat menjabat Dewan Komisaris. Penyimpangan tersebut termasuk peningkatan kuota impor minyak mentah dan impor produk kilang. Jaksa membacakan BAP Ahok terkait hal ini dan meminta penjelasan lebih lanjut.
Ahok menjelaskan, ada laporan tender aditif untuk blending di kilang Pertamina Patra Niaga yang bermasalah. Selain itu, ditemukan penyimpangan berupa penggantian nama PT dalam pengadaan. "Itu juga ada penyimpangan harga pengadaan itu barang sama, ganti nama, bisa berbeda," jelasnya.
Menurut Ahok, jika sistem procurement rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) diperbaiki, akan ada penghematan sebesar 46 persen. Terkait rekomendasi Dewan Komisaris atas penyimpangan serius, Ahok menyatakan, "Rekomendasi kami pecat, Pak. Pecat direksinya kalau saya ada kasus."
Ahok juga mengungkapkan, pengangkatan direksi dua tahun terakhir langsung dilakukan oleh Menteri BUMN, tanpa melalui Dewan Komisaris. "Sayangnya, 2 tahun terakhir, keputusan mengangkat direksi atau bukan itu tidak melalui Dekom sama sekali, langsung di-bypass oleh Menteri BUMN," kata Ahok.
4. Alasan Mundur dari Pertamina
Ahok mengungkap alasan dirinya mundur sebagai Komisaris Utama Pertamina karena perbedaan pandangan politik dengan Presiden Joko Widodo pada 2024. Ia seharusnya mundur pada akhir Desember 2023 setelah menyelesaikan penyusunan RKAP 2024.
Namun, pengesahan RKAP 2024 oleh Menteri BUMN terlambat hingga Januari. "Begitu dilakukan di Januari, saya mundur," ujarnya. Ahok menambahkan, ia meninggalkan catatan RKAP dengan sistem pengadaan baru yang harus memberikan penghematan 46 persen, dan jajaran direksi telah menandatanganinya. "Saya keluar karena alasan politik, beda pandangan dengan Presiden Pak Jokowi," imbuhnya.
5. Marah Ada Direktur Dicopot Tanpa Pemberitahuan
Ahok menjelaskan kondisi di internal Pertamina. Ia mengaku pernah marah saat rapat karena ada direktur yang dicopot dari holding tanpa pemberitahuan kepada Komut. "Ini apa-apaan kok komut nggak tahu ada direktur diganti dari menteri," ucap Ahok saat itu.
Ahok menyebut, ia ditegur oleh bagian corporate secretary (corsec) yang menjelaskan bahwa kewenangan pergantian direksi sepenuhnya berada di tangan Menteri BUMN. Ahok mengaku sempat emosi dan nyaris melempar botol air minum ke orang corsec tersebut.
6. Tak Kenal Riza Chalid
Ahok mengaku tidak mengenal buronan Riza Chalid. Ia bahkan mempertanyakan sekuat apa pengaruh Riza Chalid hingga disebut melakukan intervensi di Pertamina. Anak Riza Chalid, Muhammad Kerry Adrianto Riza, sempat menanyakan pengenalan Ahok dengan ayahnya.
Pengacara Kerry, Patra M Zen, juga mendalami pengetahuan Ahok terkait PT Orbit Terminal Merak (OTM). Ahok menyatakan baru mengenal PT OTM dari media akibat perkara ini. "Tidak ada, saya juga baru dengar OTM itu dari media," jawab Ahok.
Seusai sidang, Ahok kembali menegaskan tidak ada intervensi sewa terminal BBM Merak dari Riza Chalid. "Nggak pernah, itu cuma, selalu orang ngomongin di media, saya juga heran, sekuat apa sih beliau sampai intervensi? Kita kan jaganya gitu ketat," ujar Ahok.